13 April 2014

LIMA

Ketika semuanya ada dengan segala sesuatu yang terjadi. Hal yang sangat aku benci kini terjadi juga. Hal yang paling gak disukai. Hal yang ga pernah terpikir sebelumnya. Angka itu. Nomor itu. Hatri itu. Semuanya hancur. Semuanya berantakan. Parah. Sakit. Kecewa. Marah. Dendam. Emosi. Air mata. Jadi satu dari semua perasaan yang sangat menyakitkan. Hal yang terjadi akan damapk kedepannya. Sangatlah berpengaruh. Untuk hari ini, nanti, dan selamanya. Perubahan itu terjadi setelah ada kata "sah". Ketika mendengar semua yang dikatakan olehnya, rasanya remuk. Hancur berantakan seperti berkeping-keping. Hal yang dulu aku impikan sekarang semuanya telah sirna. Tak ada lagi rasa untuk bisa merasakan semua kebahagiaan. Tak ada lagi keinginan untuk bisa kembali.

Lima. Angka dimana mempunyai suatu makna yang dalam. Dulu untukku, angka menjadi sumber kebahagiaan. Setelah semua perasaan itu dihancurkan olehnya, ditambah lagi ada dia yang baru yang menghancurkannya kembali makin kuat rasanya bahwa aku tak bisa lagi merasakan itu. Kini, angka itu menjadi sangat terlarang buatku. Sangat sakit. Muak dan rasanya ingin enyah dari dunia yang fana ini. Semua kebahagiaanku tertutup karena angka itu. Angka yang sekarang paling aku benci bahkan aku hindari. Angka yang menjadi pertaruhan untuk kebahagiaanku kedepannya, Sekarang seperti sosok yang sangat kosong tak mempunya arah atau tujuan dalam hidup. Karena harapan yang telah sirna. Karena semua hal yang terjadi begitu sakit dan aku tak mampu untuk menahannya. Terlebih aku harus menahannya sendirian.

Aku tak pernah menyangka hai itu akan datang
Hari dimana semua yang aku harapkan menjadi lenyap
Hilang dan tak akan pernah bisa kutemukan lagi
Rasa sakit dan kecewa yang mendalam
Terlalu sulit unruk dijelaskan menggunakan kata-kata
Namun bisa kurasakan hingga relung hati terdalam

Cinta, pergiah engkau sekarang
Pergi dan raih kebahagiaanmu
Lakukan apa yang membuatmu bahagia
Apabila kau sudah mendapatkanya,
Simpan dan jaga baik-baik

Karena aku disini tidak akan pernah bisa dimengerti olehmu ataupun olehnya.

02 April 2014

Hilang.

Hai. Lagi-lagi aku harus menuliskan semuanya disini. Baru aja, tadi malem lebih tepatnya. Aku harus menerima lagi sama yanh namanya "kecewa". Iya, tadi malam aku baru aja dapet kabar tentang kelanjutan aku sama dia. Yaaa, lagi-lagi aku harus mengurunkan niat. Lagi-lagi aku harus jatuh lagi ke masa dimana aku harus bisa bangkit sendiri. Intinya, bertepuk sebelah tangan. Aku sadar, mungkin kejadian waktu itu masih membekas untuknya. Begitupun untukku. Namun, akupun salah duga. Aku kira, beberapa hari sebelumnya dengan aku bisa berhubungan kembali dengannya walau hanya lewat sms, itu akan membuat semuanya kembali seperti semula. Perasaanku masih sama untuknya. Karenanya aku bisa bangkit. Sekarang, karenanya aku jatuh. Karenanya pula aku kembali menutup hatiku rapat-rapat. Mungkin ini bukan salah dia sepenuhnya, namun apa harus dengan cara seperti ini? Ketika aku baru bisa melepaskan perasaanku terhadap Taufik, dan aku merasa bahagia dengan kehadirannya, sekarang aku harus kehilangannya lagi. Lagi, dan Lagi. Iya, aku kehilangan lagi. Kehilangan orang yang mungkin sangat jarang kutemui, untuk kenal pun sudah sangat bersyukur. Iya, dulu semuanya indah. Sekarang? aku harus bisa menutupi semua rasa kesedihanku dihadapan orang-orang. Terutama untuk orang yang mengetahui aku dan dia waktu itu. Aku yang dulu sangat dekat dengannya, dia yang dulu sangat baik padaku, yang membuat aku bisa jatuh hati padanya.

Aku belum tau pasti apa semua itu benar adanya. Semua kenyataan dan pengakuan yang kudengar. Itu bukan dari mulutnya langsung. Itu dari "Temannya". Dia adalah orang dulu pernah mengungkapkan perasaannya padaku. Rasa kecewa dan rasa sakit yang kurasakan saat aku mendengar kabar bahwa dia sudah menyukai orang lain. Ya, apa itu adalah orang dia sukai dulu. Semester 1 lebih tepatnya. Satu kelas dengannya. Aku tak tahu, rasanya aku tidak ingin tahu siapa orang dia suka. Aku hanya bisa melihat dari kejauhan. Sekarang yang kurasakan itu sangat kosong. Siapa yang tidak merasa sakit apabila menerima kenyataan seperti itu? Aku harus kembali menutup hatiku rapat-rapat. Rasanya masih sangat sakit sekali. 

Sakit yang harus kudapat darinya? Iya?
Kenapa harus dia yang membuatku seperti ini?
Apa tidak ada orang lain?
Kenapa harus dengannya?
Semua pertanyaannya, "Kenapa?"

Kini, aku harus menutup semuanya rapat-rapat kembali. Aku sadar, bahwa aku belum siap untuk membuka semuanya kembali. Aku belum bisa. Aku belum sanggup. Masih sakit rasanya aku merasakan hal ini. Baru aku bisa bangkit karena taufik. Baru aku bisa melepas semua perasaan, dan kini sekarang aku harus merasa kecewa kembali. Tak apa, aku tahu aku kuat dan aku bisa melewati ini semua. Karena Allah tahu, sebenarnya bukan sekarang waktunya. Ini hanya permainan waktu. Kapan waktunya, Dimana, Dengan siapa, hanya Dia yang tahu. Aku disini hanya menjalankan tugasku menjadi umatNya. Aku percaya bahwa setelah ini, ada orang yang disiapkan untukku,

Terimakasih Cinta,
Terimakasih karena engkau telah membuat hariku berwarna
Terimakasih atas semua hal yang telah engkau beri
Terimakasih atas semua yang kau lakukan
Karenamu, aku bisa sangat tegar
Aku bisa sagat kuat, bahkan aku bisa berdiri tegap
Terimakasih telah mengizinkanku untuk mengenalmu
Mengenalmu diwaktu yang singkat
Di pertemuan singkat yang selalu dengan senyuman
Terimakasih Cinta.

25 Maret 2014

Aku, Bersamamu. Aku, Untukmu.

Bismilllahirrahmanirrahim....

Hari ini aku menulis lagi. Entah kenapa rasanya aku ingin meluapkan apa yang terjadi disini. Karena aku tidak dapat mengungkapkan kepada siapapun. Mungkin, mulai detik ini hanya ini yang bisa menjadi teman setiaku. Teman dimana aku ingin mencurahkan semua isi hatiku. Iya, hari ini ada hal yang terjadi. Lagi-lagi aku harus terjebak di dalam hal yang benar-benar membuatku bingung. Aku mengingatnya. Bahkan selalu mengingatnya. Apapun yang kulakukan selalu teringat tentangnya. Sekarang, halnya bukan yang "dulu". Tapi kini, ada "Dia" yang membuatku menjadi lebih merasa bahagia. Dia datang dan masuk ke kehidupanku sejak Oktober 2013 lalu. Kehadirannya membuat hariku menjadi semakin berwarna. Apa yang aku lakukan kini tertuju padanya. Awalnya, aku tak pernah menyangka bahwa aku bisa sampai sejauh ini bersamanya. Ternyata hal yang sangat tidak disangka bahkan aku seolah tak percaya bahwa aku bisa sejauh ini. Rasa yang dulu kukira hanya "sebatas teman" tapi kini sekarang semuanya berubah menjadi rasa sayang. Mungkin setiap harinya rasa ini akan terus bertambah. Sikapnya yang dingin dan selalu "lempeng" yang bisa membuatku bertahan? Apa iya? Hanya itu yang membuatku bisa menjadi seperti ini? Pribadi yang baru yang sangat unik yang jujur sebelumnya belum ernah kukenal. Aku mengenalnya seperti mengenal sosok baru yang masuk ke kehidupanku. "Aku tidak pernah memaksa hatiku untuk membuka. Dia datang dan dia bisa masuk secara perlahan tanpa kusadari. Dia bisa mengerti aku. Dengan sikapnya yang dingin, yang tak pernah memperlihatkan apapun tentangnya. Sikapnya yang membuatku nyaman. Yang membuat aku tak mau pergi dan tak mau kehilangannya. Aku seperti menemukan sosok yang selama ini hanya ada dalam imajinasiku"

"Kamu. Ya, Kamu bisa membuatku bangkit. Karena sikapmu yang dingin, cuek, dan semua tentangmu yang baru kukenal yang bisa membuat aku bertahan hingga saat ini. Rasa sayang yang awalnya aku pikir hanya sebatas teman pada akhirnya berubah menjadi rasa sayang yang tulus. Rasa sayang yang murni datang dari dalam hatiku yang terdalam. Kamu, kamu yang membuat hariku menjadi semakin berwarna. Hariku semakin berarti dengan adanya dirimu disisiku sekarang. Walau hanya bisa melihatmu dari kejauhan, bisa memperhatikanmu dari belakang. Dulu, kita memang pernah dekat. Dekat sedekat-dekatnya. Yang orang sangka bahwa kita mempunyai hubungan khusus. Walaupun pada akhirnya kita menjauh seperti saat ini. Entah mengapa kita bisa seperti ini."

Dulu, Kamu bisa membuatku tertawa. Bisa membuatku tersenyum. Dan aku siap untuk menghadapi hari-hari yang akan kulewati. Itu hanya karenamu. Aku ingin melewatinya bersamamu. Tak pernah kuduga sebelumnya bahwa aku bisa menjatuhkan hatiku padamu. Seseorang yang baru masuk di kehidupanku. Dengan kepribadian yang sangat bertolak belakang denganku. Kamu yang dingin. Aku yang rame. Kamu yang cuek. Aku yang riweuh. Kamu yang diam. Aku yang berisik. Semua perbedaan itu yang membuat kita menjadi sangat unik. Seakan-akan, aku menaruh harapanku bersamamu. Kamu yang berbeda dari semua orang yang pernah kukenal. Sikapmu yang membuatku kagum dan sangat menghargai semuanya tentangmu. Semua tentangmu, aku belum mengetahuinya secara keseluruhan. Satu yang kutahu, bahwa aku yakin. Perasaanmu terhadapku semoga tidak akan prnah berubah.

"Rizka juga sayang sama Cihaw. Tapi Rizka belum bisa lebih dari ini. Tapi intinya Rizka sayang sama Cihaw" Semoga ucapanmu waktu itu akan selalu sama. Sama dalam hatimu. Terhadapku, Dngan perasaanmu yang tidak akan pernah berubah.

Aku disini, menunggumu. Aku disini, ingin bahagia bersamamu. Aku menyayangimu.

24 Maret 2014

Hi, 2014!

Hai. Halo lagi buat blog aku yang udah lama ga pernah aku buka. Terakhir dulu, seingatku aku posting di blog ini bulan Desember 2012? Ya, mungkin. Entah aku pun tak ingat lagi. Kapan terakhir aku tulis semua yang kurasakan disini. Sekarang, aku sudah menjadi seorang "Mahasiswi". Predikat yang dari dulu sangat aku impikan. Sangat aku tunggu. Sangat membuat "exited" akan predikat tersebut. Tapi, sekarang setelah aku mendapatkan predikatnya, aku justru merasa ingin balik lagi. Seperti dulu, dimana aku menjadi seorang "siswi" yang masih memakai seragam "Sekolah Menengah Atas". Dulu, ceritaku setiap aku tulis apapun yang ada di blog ini masih terasa sama. Tapi sekarang, semuanya berbeda. Ya, aku sudah tak bersamanya lagi. Kita sudah mengakhiri semuanya saat penghujung September 2013. Tepatnya, pada tanggal 30 lalu.

2014 ini sangat berbeda dari tahun-tahun sebebelumnya. Mungkin karena aku sudah tak bersamanya lagi. Sudah hampir 6 bulan ini aku bukan miliknya lagi. Rasa sakit yang tergores dihatiku ini memang tak ternilai rasanya. Rasa sakit yang tak bisa kuungkapkan dengan kata-kata. Hanya bisa aku rasakan. Rasa yang tertinggal sampai saat ini adalah rasa yang sangat dalam. Seperti disayat hingga bagian terdalam. Dengan cara yang tidak baik-baik aku berpisah dengannya. Rasanya sungguh tidak adil apabila melihat akhir dari semua ini menjadi seperti sekarang. Apa daya, aku tak punya kekuatan apapun untuk membuat semuanya bisa kembali seperti semula. Aku sudah mengakhiri dengannya dan itu menjadi keputusanku. Iya, pada akhirnya aku sendiri yang menyerah. Aku sendiri yang menyudahi semuanya. Hingga 6x dia melakukan hal itu. Hingga akhirnya juga aku mengalah.

Sekarang dia sudah bahagia bersama orang itu. Orang baru yang masuk ke kehidupannya. Yang tak pernah aku sangka bahwa dia akan lebih memilih orang itu dibandingkan aku yang sudah 4 tahun bersamanya dulu. Ha ha tapi apa mau dikata itu kan dulu. Dulu, iya aku memang bersamanya. Dulu aku miliknya. Dulu aku menjadi permasyurinya. Dulu aku menjadi kebanggaannya. Sama halnya seperti aku. Dulu, dia bersamaku. Dulu dia miliku. Dulu dia duniaku. Dulu dia segalanya untukku. Tapi itu dulu. Dulu yang mungkin sekarang tidak akan pernah kembali lagi. Hanya secerca harapan yang aku taruh untuk kebahagiaannya. Aku akan bahagia apabila melihat dia bisa jauh lebih bahagia dibandingkan denganku. Ini mungkin tandanya bahwa aku memang bukan miliknya dan aku bukan untuknya.

Aku, bahagia untukmu wahai kesayanganku :-)