Hai. Halo lagi buat blog aku yang udah lama ga pernah aku buka. Terakhir dulu, seingatku aku posting di blog ini bulan Desember 2012? Ya, mungkin. Entah aku pun tak ingat lagi. Kapan terakhir aku tulis semua yang kurasakan disini. Sekarang, aku sudah menjadi seorang "Mahasiswi". Predikat yang dari dulu sangat aku impikan. Sangat aku tunggu. Sangat membuat "exited" akan predikat tersebut. Tapi, sekarang setelah aku mendapatkan predikatnya, aku justru merasa ingin balik lagi. Seperti dulu, dimana aku menjadi seorang "siswi" yang masih memakai seragam "Sekolah Menengah Atas". Dulu, ceritaku setiap aku tulis apapun yang ada di blog ini masih terasa sama. Tapi sekarang, semuanya berbeda. Ya, aku sudah tak bersamanya lagi. Kita sudah mengakhiri semuanya saat penghujung September 2013. Tepatnya, pada tanggal 30 lalu.
2014 ini sangat berbeda dari tahun-tahun sebebelumnya. Mungkin karena aku sudah tak bersamanya lagi. Sudah hampir 6 bulan ini aku bukan miliknya lagi. Rasa sakit yang tergores dihatiku ini memang tak ternilai rasanya. Rasa sakit yang tak bisa kuungkapkan dengan kata-kata. Hanya bisa aku rasakan. Rasa yang tertinggal sampai saat ini adalah rasa yang sangat dalam. Seperti disayat hingga bagian terdalam. Dengan cara yang tidak baik-baik aku berpisah dengannya. Rasanya sungguh tidak adil apabila melihat akhir dari semua ini menjadi seperti sekarang. Apa daya, aku tak punya kekuatan apapun untuk membuat semuanya bisa kembali seperti semula. Aku sudah mengakhiri dengannya dan itu menjadi keputusanku. Iya, pada akhirnya aku sendiri yang menyerah. Aku sendiri yang menyudahi semuanya. Hingga 6x dia melakukan hal itu. Hingga akhirnya juga aku mengalah.
Sekarang dia sudah bahagia bersama orang itu. Orang baru yang masuk ke kehidupannya. Yang tak pernah aku sangka bahwa dia akan lebih memilih orang itu dibandingkan aku yang sudah 4 tahun bersamanya dulu. Ha ha tapi apa mau dikata itu kan dulu. Dulu, iya aku memang bersamanya. Dulu aku miliknya. Dulu aku menjadi permasyurinya. Dulu aku menjadi kebanggaannya. Sama halnya seperti aku. Dulu, dia bersamaku. Dulu dia miliku. Dulu dia duniaku. Dulu dia segalanya untukku. Tapi itu dulu. Dulu yang mungkin sekarang tidak akan pernah kembali lagi. Hanya secerca harapan yang aku taruh untuk kebahagiaannya. Aku akan bahagia apabila melihat dia bisa jauh lebih bahagia dibandingkan denganku. Ini mungkin tandanya bahwa aku memang bukan miliknya dan aku bukan untuknya.
Aku, bahagia untukmu wahai kesayanganku :-)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar